Ayah Mengapa Aku Berbeda
?
Bila semua teman-temanku bernyanyi,
aku hanya bisa terdiam. Aku tidak pernah tau harus bagaimana mengatakan pada
dunia bertapa aku sangat ingin seperti mereka, bisa mendengar dan bernyanyi
layaknya kehidupan normal.
Sayangnya aku terlahir dengan
keadaan tuli, lebih sadisnya terkadang mereka orang-orang yang tidak pernah
mengerti perasaanku berkata kalau aku “ BUDEK” dan itu dituliskan di kertas
untukkku tepat di meja belajarku di kelas.
Tapi aku tidak pernah merasa ingin
membalas semuanya, karena aku sadar inilah hidupku dan inilah takdirku.
Dulu semasa kecil mungkin aku tidak
pernah merasa beban ini begitu besar dalam hidupku, ketika menyadari aku
beranjak remaja dan melihat aku berbeda diantara sahabat-sahabatku. Di depan
mading sekolahku tertulis sebuah pengumuman pembentukan tim musik sekolah, aku
ingin ikut dalam tim itu tapi sayangnya aku hanya bisa meratapi nasibku. Aku
pun pulang untuk bertemu dengan ayah, aku terduduk dengan wajah penuh
kesedihan,
Dalam duniaku, hanya ayah yang bisa
mengerti apa yang aku katakan. Walaupun itu harus dengan bahasa tangan yang ia
pelajari dengan susah payah.
Aku mengetuk pintu untuk memberi tanda aku ada di kamar untuk bicara dengan ayah, ia melihatku dan melempar senyum.
Aku mengetuk pintu untuk memberi tanda aku ada di kamar untuk bicara dengan ayah, ia melihatku dan melempar senyum.
“ Angel, ayo masuk. Silakan duduk
disini nak, ada apa? Bagaimana pelajaran kelas kamu hari ini?”
Aku tertunduk, lalu ayah mulai bisa membaca wajahku.
“ Apa yang terjadi nak, ceritakan pada ayah?”
“ Ayah mengapa aku berbeda dari teman-temanku?”
“ Dalam hal?” tanya ayah padaku,
Aku menangis dan usiaku saat itu hanya 12 tahun dan duduk di sekolah menengah pertama.
“ Aku tidak bisa bernyanyi, tidak bisa mendengar.. Mengapa ayah?”
Ayah melihatku sambil tersenyum,
“ Apakah kamu merasa bersedih karena itu?”
“ Ya, aku sangat bersedih.. Aku ingin seperti mereka.. Bisa bernyanyi dan mendengarkan indahnya musik..”
“ Mengapa kamu ingin menjadi seperti mereka?”
“ Karena aku ingin menjadi tim musik sekolah, aku ingin ayah..”
“ Kalau begitu lakukan..”
Aku tertunduk, lalu ayah mulai bisa membaca wajahku.
“ Apa yang terjadi nak, ceritakan pada ayah?”
“ Ayah mengapa aku berbeda dari teman-temanku?”
“ Dalam hal?” tanya ayah padaku,
Aku menangis dan usiaku saat itu hanya 12 tahun dan duduk di sekolah menengah pertama.
“ Aku tidak bisa bernyanyi, tidak bisa mendengar.. Mengapa ayah?”
Ayah melihatku sambil tersenyum,
“ Apakah kamu merasa bersedih karena itu?”
“ Ya, aku sangat bersedih.. Aku ingin seperti mereka.. Bisa bernyanyi dan mendengarkan indahnya musik..”
“ Mengapa kamu ingin menjadi seperti mereka?”
“ Karena aku ingin menjadi tim musik sekolah, aku ingin ayah..”
“ Kalau begitu lakukan..”
Aku terdiam tidak bisa membalas
pertanyaan ayah kemudian ia bangkit dan mengajakku ke ruangan gudang di
belakang rumahku, ia mulai membersihkan debu-debu di sebuah meja panjang yang
tadinya kupikir adalah meja makan. Ternyata itu adalah piano klasik. Aku
memperhatikanya dengan heran,
“ Ini adalah peninggalan ibumu
sebelum ia meninggal setelah melahirkan kamu, ayah sudah tidak pernah mendengarkannya
sejak kamu terlahir..”
“ Lalu..?” tanyaku.
“ kamu mungkin terlahir tanpa bisa mendengar dan bernyanyi. Tapi kamu terlahir dari rahim seorang ibu yang berjuang agar kamu ada di dunia ini dan ayah percaya, Tuhan memberikan kamu dalam kehidupan karena kamu memang layak untuk itu.”
“ Tapi aku cacat, tidak normal dan tidak akan pernah bisa mendengar musik? Bagaimana caranya aku bisa seperti teman-temanku.”
“ Sayang kamu memang tidak bisa mendengarkan musik, tapi kamu bisa memainkan musik?”
“ Bagaimana caranya?”
“ Ayah ada disini untuk kamu dan percayalah, musik itu akan terasa indah bila kamu merasakannya dari hati kamu. “
“ Walaupun aku tidak bisa mendengar..”
Ayah duduk dikursi dan menyuruhku memperhatikannya bermain piano, Ia menutup matanya lalu memainkan arunan toth piano itu.
“ Anakku, rasakanlah musik itu dalam hati dan kamu akan tau bertapa Tuhan sangat mencintai siapapun makluk yang ia ciptakan. Walaupun kamu terlahir dengan keadaan cacat dan tidak bisa mendengarkan suara musik itu dari telinga kamu.. Kamu bisa dengarkan lewatkan hati kamu..”
“ Lalu..?” tanyaku.
“ kamu mungkin terlahir tanpa bisa mendengar dan bernyanyi. Tapi kamu terlahir dari rahim seorang ibu yang berjuang agar kamu ada di dunia ini dan ayah percaya, Tuhan memberikan kamu dalam kehidupan karena kamu memang layak untuk itu.”
“ Tapi aku cacat, tidak normal dan tidak akan pernah bisa mendengar musik? Bagaimana caranya aku bisa seperti teman-temanku.”
“ Sayang kamu memang tidak bisa mendengarkan musik, tapi kamu bisa memainkan musik?”
“ Bagaimana caranya?”
“ Ayah ada disini untuk kamu dan percayalah, musik itu akan terasa indah bila kamu merasakannya dari hati kamu. “
“ Walaupun aku tidak bisa mendengar..”
Ayah duduk dikursi dan menyuruhku memperhatikannya bermain piano, Ia menutup matanya lalu memainkan arunan toth piano itu.
“ Anakku, rasakanlah musik itu dalam hati dan kamu akan tau bertapa Tuhan sangat mencintai siapapun makluk yang ia ciptakan. Walaupun kamu terlahir dengan keadaan cacat dan tidak bisa mendengarkan suara musik itu dari telinga kamu.. Kamu bisa dengarkan lewatkan hati kamu..”
Ayah mengajakku untuk menyentuh
setiap toth piano dan kami bermain bersama, aku memang tidak bisa merasakan apa
suara music itu tapi aku bisa merasakan nada dari jari yang ketekan dan itu
membuatku bersemangat untuk berlatih piano klasik, aku tau ibuku adalah seorang
pemain piano sebelum ia meninggal saat melahirkanku. Aku pun berjuang untuk
bermain musik dan perlahan aku mampu membuat sedikit alunan music yang indah.
Semua itu kurasakan dalam hatiku, semua itu kurasakan dalam jiwaku.
Beberapa minggu kemudian, aku mulai
berani mendaftar dalam tim musik sekolahku dan guruku menerimaku walaupun ia
tau aku cacat tapi setelah aku mainkan piano dan ia terkesan. Aku tau semua
orang melihatku dengan aneh, seorang teman bernama Agnes datang padaku.
“ Hai orang cacat, apa yang bisa
kamu lakukan dengan telingamu yang tertutup kotoran?”
Yang lain tertawa dan menambah kalimat yang melukai hatiku,
“ Dia mungkin mau jadi badut diantara tim kita, biarkan saja..”
Ejekan itu berakhir saat guruku datang, mereka semua kembali ke posisi mereka masing dalam alat music yang mereka kuasai. Ibu guru pembimbing kelas musik bersikap hangat padaku, ia memperkenalkanku pada semuanya.
“ Anak-anak mulai hari ini Angel akan bergabung dalam tim kita, semoga kalian bisa berkerja sama dengan Angel ya..”
“ Ibu apa yang bisa lakukan untuk tim kita, dia kan budek?” ejek Agnes.
“ Agnes!! ibu tidak pernah mengajarkan kamu untuk menghina orang lain, jaga sikap kamu. Walaupun Angel cacat secara fisik ia juga memiliki perasaan, tolong kendalikan kata-kata kamu.”
Aku senang ibu membelaku tapi itu malah membuat semua membenciku, ibu mempersilakan aku memainkan piano, dengan gugup aku bisa bermain dengan baik. Tidak ada satupun tepuk tangan dari teman-temanku, hanya ibu guru seorang. Ketika kelas bubar aku mendekat pada ibu guru, aku menuliskan apa yang ingin aku katakan kepadanya, Ia membacanya.
“ Ibu , aku mundur saja dari tim, aku tidak mungkin bisa menjadi bagian dari mereka. Karena aku ini cacat. Mereka tidak akan menerimaku?”
“ Tidak sayang, jangan berkata demikian, kamu special, kamu berbakat, mereka hanya belum terbiasa, percayalah kalau kamu sudah sering bermain dengan mereka. Kamu akan diterima dengan suka cita. Jadi ibu tidak mau mendengarkan kalimat kamu ingin mundur..”
“ Tapi bu, aku takut bila membuat semua jadi kacau.”
“ Anakku, beberapa minggu lagi, sekolah ini akan merayakan hari ulang tahunnya, ibu percaya kamulah satu-satunya orang yang layak mengisi tempat di bagian piano, karena teman kamu Rika ( pianis sebelumnya) telah mundur karena sakit cacar”
Yang lain tertawa dan menambah kalimat yang melukai hatiku,
“ Dia mungkin mau jadi badut diantara tim kita, biarkan saja..”
Ejekan itu berakhir saat guruku datang, mereka semua kembali ke posisi mereka masing dalam alat music yang mereka kuasai. Ibu guru pembimbing kelas musik bersikap hangat padaku, ia memperkenalkanku pada semuanya.
“ Anak-anak mulai hari ini Angel akan bergabung dalam tim kita, semoga kalian bisa berkerja sama dengan Angel ya..”
“ Ibu apa yang bisa lakukan untuk tim kita, dia kan budek?” ejek Agnes.
“ Agnes!! ibu tidak pernah mengajarkan kamu untuk menghina orang lain, jaga sikap kamu. Walaupun Angel cacat secara fisik ia juga memiliki perasaan, tolong kendalikan kata-kata kamu.”
Aku senang ibu membelaku tapi itu malah membuat semua membenciku, ibu mempersilakan aku memainkan piano, dengan gugup aku bisa bermain dengan baik. Tidak ada satupun tepuk tangan dari teman-temanku, hanya ibu guru seorang. Ketika kelas bubar aku mendekat pada ibu guru, aku menuliskan apa yang ingin aku katakan kepadanya, Ia membacanya.
“ Ibu , aku mundur saja dari tim, aku tidak mungkin bisa menjadi bagian dari mereka. Karena aku ini cacat. Mereka tidak akan menerimaku?”
“ Tidak sayang, jangan berkata demikian, kamu special, kamu berbakat, mereka hanya belum terbiasa, percayalah kalau kamu sudah sering bermain dengan mereka. Kamu akan diterima dengan suka cita. Jadi ibu tidak mau mendengarkan kalimat kamu ingin mundur..”
“ Tapi bu, aku takut bila membuat semua jadi kacau.”
“ Anakku, beberapa minggu lagi, sekolah ini akan merayakan hari ulang tahunnya, ibu percaya kamulah satu-satunya orang yang layak mengisi tempat di bagian piano, karena teman kamu Rika ( pianis sebelumnya) telah mundur karena sakit cacar”
Aku pulang ke rumah dan memberi
kabar kalau aku diterima dalam tim musik sekolah, ayah begitu gembira menunggu
saat-saat aku akan berada dipanggung, ia terus melatih permainan pianoku. Aku
tidak pernah cerita bertapa aku sangat diremehkan oleh teman-teman se-timku
yang hanya menganggap aku sampah yang tidak layak disamping mereka. Mereka
sering memarahi aku dengan kata-kata kasar lalu mereka menghinaku sebagai gadis
caca, hal itu terus terjadi disaat kami berlatih persiapan untuk panggung
sekolah . Mereka tidak pernah peduli apa yang kumainkan bila benar, mereka
selalu bilang salah. Padahal aku yakin aku benar-benar memainkan musik piano
ini, sedihnya saat aku bertanya dimana letak kesalahanku yang mereka jawab
lebih menyakitkan.
“ Kamu ini tuli dan budek, bagaimana
bisa kamu tau alunan musik yang kamu mainkan itu benar atau salah? Kamu membuat
aku muak dengan sikap kamu yang sok pintar dan mencari muka di depan bu guru.”
Kata Agnes padaku.
Aku menangis mendengarkan kalimat itu, aku berlari pulang ke rumah dan satu-satunya kalimat yang kudengar hanya satu. “ Pergi kamu gadis cacat, jangan pernah kembali ke tim kami, kami tidak sudi menerima kamu dalam kelompok ini.”
Aku menangis hingga di depan rumahku dan ketika aku tiba di gerbang rumahku, sebuah mobil ambulan ada didepan rumahku dan membawa ayah. Aku mengejar perawat yang membawa ayah, ayahku tampak tertidur tanpa bicara, seorang tetanggaku berkata padaku.
“ Ayahmu terkena serangan jantung, kamu ikut tante saja. Kita pergi bersama-sama ke rumah sakit.”
Aku shock dan menangis! Bagaimana hidupku tanpa ayah? Sepanjang perjalanan aku terus menitihkan air mata. Ayah tidak sadarkan diri sejak sakit jantungnya kambuh, ia memang memiliki sakit jantung sejak menikah padahal usianya masih sangat muda. tiga hari lamanya aku menemani ayah yang tidak pernah sadarkan diri. Tiga hari pula aku tidak pernah ke sekolah, bu guru bertanya pada Agnes mengapa aku tidak masuk hari ini?”
“ Mungkin Angel merasa tidak sanggup lagi bergabung dengan tim kita, dia itu bodoh bu! Selalu melakukan kesalahan dan dia pergi begitu saja saat latihan dan tidak pernah kembali hingga saat ini.”
Ibu guru mencoba pergi ke rumahku, tapi tidak ada seorang pun orang dirumahku. Aku tau beberapa hari lagi perayaaan musik di sekolahku akan dimulai. Mungkin memang sudah menjadi garis tangan hidupku, aku tidak boleh menjadi tim sekolah. Padahal aku sudah berjuang maksimal berlatih piano di rumah. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menjaga ayahku karena ia lebih penting dalam hidupku, ia satu-satunya sahabatku yang bisa mengerti keadaan ku setelah ibu meninggal dunia.
Ya Tuhan jangan ambil ayahku, doaku setiap saat kepadanya
Aku menangis mendengarkan kalimat itu, aku berlari pulang ke rumah dan satu-satunya kalimat yang kudengar hanya satu. “ Pergi kamu gadis cacat, jangan pernah kembali ke tim kami, kami tidak sudi menerima kamu dalam kelompok ini.”
Aku menangis hingga di depan rumahku dan ketika aku tiba di gerbang rumahku, sebuah mobil ambulan ada didepan rumahku dan membawa ayah. Aku mengejar perawat yang membawa ayah, ayahku tampak tertidur tanpa bicara, seorang tetanggaku berkata padaku.
“ Ayahmu terkena serangan jantung, kamu ikut tante saja. Kita pergi bersama-sama ke rumah sakit.”
Aku shock dan menangis! Bagaimana hidupku tanpa ayah? Sepanjang perjalanan aku terus menitihkan air mata. Ayah tidak sadarkan diri sejak sakit jantungnya kambuh, ia memang memiliki sakit jantung sejak menikah padahal usianya masih sangat muda. tiga hari lamanya aku menemani ayah yang tidak pernah sadarkan diri. Tiga hari pula aku tidak pernah ke sekolah, bu guru bertanya pada Agnes mengapa aku tidak masuk hari ini?”
“ Mungkin Angel merasa tidak sanggup lagi bergabung dengan tim kita, dia itu bodoh bu! Selalu melakukan kesalahan dan dia pergi begitu saja saat latihan dan tidak pernah kembali hingga saat ini.”
Ibu guru mencoba pergi ke rumahku, tapi tidak ada seorang pun orang dirumahku. Aku tau beberapa hari lagi perayaaan musik di sekolahku akan dimulai. Mungkin memang sudah menjadi garis tangan hidupku, aku tidak boleh menjadi tim sekolah. Padahal aku sudah berjuang maksimal berlatih piano di rumah. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menjaga ayahku karena ia lebih penting dalam hidupku, ia satu-satunya sahabatku yang bisa mengerti keadaan ku setelah ibu meninggal dunia.
Ya Tuhan jangan ambil ayahku, doaku setiap saat kepadanya
Seminggu kemudian,
Ayah tersadar dan melihat aku
disampingnya. Ia tidak bisa bicara banyak, selain bertanya mengapa aku disini,
mengapa aku tidak berlatih bersama tim musik disekolahku, aku berpura-pura
berkata padanya kalau mereka memberikan aku izin menjaga ayah. Ayah marah
padaku, ia bilang aku harus segera latihan dan ia ingin aku tampil disana.
“ Jangan pedulikan ayah saat ini,
yang penting kamu harus bisa buktikan kepada semua orang kalau kamu bisa
bermain musik dan tunjukkan kepada mereka kamu gadis yang sempurna ”
Aku tau itu berat, tapi aku tidak
ingin ayah bersedih mendengar penolakkan sahabatku di sekolah, ia berjanji
padaku akan lekas sembuh asal aku terus bersemangat latihan musik. Akhirnya aku
pun pergi ke sekolah kembali dan masuk ke kelas musik. Ibu guru menyambutku
dengan baik, dan langsung memintaku berlatih. Setelah ia pergi, Agnes dan
kawan-kawan mendekatiku, mereka mendorongku hingga terjatuh.
“ Kamu itu makluk Tuhan paling
menjijikan, jangan membuat tim kami malu dengan kehadiran kamu di tim music
kami. tidak punya malu, padahal kami sudah mengusirmu..”
Aku terdiam, seorang teman
mengatakan pada Agnes,
“ Percuma dia tuli, dia ga akan mendengarkan apa yang kita bicarakan.”
Agnes marah merasa aku tidak mendengarkan semua kemarahannya, Ia bersama teman-teman mendorongku hingga keluar ruangan, aku mengetuk pintu dan ketika tanganku berusaha membuka pintu, mereka menjepit tanganku tanpa ampun, aku berteriak kesakitan dan mereka tidak peduli
“ Astaga dia bisa menjerit juga ya.. kirain dia itu bisu, bisa teriak juga hahaha “ ledek mereka.
Mereka menyiksaku dan aku tidak berdaya. Tanganku terasa mati rasa, mungkin jariku patah. Aku meminta tetanggaku untuk membalut luka ini dan ia sangat terkejut dengan keadaanku. Aku berkata padanya aku terjatuh di jalan. Tapi aku tidak akan pernah menyerah untuk menjadi tim musik kelasku. Hingga hari itu tiba, dengan luka balut tanganku aku muncul di sekolah. Sebelumnya aku mengatakan pada ayah .
“ Ayah hari ini aku akan bermain musik dihadapan semua orang, ayah harus mendengarkan ya. “
“ Anakku, ayah pasti mendengarkan. Maaf saat ini ayah sedang sakit, ini adalah hari istemewamu. Tapi ayah sudah pikirkan bagaimana caranya. Ambil telepon genggam ayah dan biarkan itu menyala saat kamu mainkan.”
“ Baik ayah.” Aku menuruti ide cermerlang ayah.
Saat aku keluar ruangan, dokter mengatakan hal kecil disamping ayah “ Jantung anda melemah, anda harus terus berpikir positif sehingga cepat sembuh”
“ Anak saya akan manggung hari ini, itu membuat saya cemas”
“ Percayalah , anak anda adalah gadis luar biasa..”
“ Percuma dia tuli, dia ga akan mendengarkan apa yang kita bicarakan.”
Agnes marah merasa aku tidak mendengarkan semua kemarahannya, Ia bersama teman-teman mendorongku hingga keluar ruangan, aku mengetuk pintu dan ketika tanganku berusaha membuka pintu, mereka menjepit tanganku tanpa ampun, aku berteriak kesakitan dan mereka tidak peduli
“ Astaga dia bisa menjerit juga ya.. kirain dia itu bisu, bisa teriak juga hahaha “ ledek mereka.
Mereka menyiksaku dan aku tidak berdaya. Tanganku terasa mati rasa, mungkin jariku patah. Aku meminta tetanggaku untuk membalut luka ini dan ia sangat terkejut dengan keadaanku. Aku berkata padanya aku terjatuh di jalan. Tapi aku tidak akan pernah menyerah untuk menjadi tim musik kelasku. Hingga hari itu tiba, dengan luka balut tanganku aku muncul di sekolah. Sebelumnya aku mengatakan pada ayah .
“ Ayah hari ini aku akan bermain musik dihadapan semua orang, ayah harus mendengarkan ya. “
“ Anakku, ayah pasti mendengarkan. Maaf saat ini ayah sedang sakit, ini adalah hari istemewamu. Tapi ayah sudah pikirkan bagaimana caranya. Ambil telepon genggam ayah dan biarkan itu menyala saat kamu mainkan.”
“ Baik ayah.” Aku menuruti ide cermerlang ayah.
Saat aku keluar ruangan, dokter mengatakan hal kecil disamping ayah “ Jantung anda melemah, anda harus terus berpikir positif sehingga cepat sembuh”
“ Anak saya akan manggung hari ini, itu membuat saya cemas”
“ Percayalah , anak anda adalah gadis luar biasa..”
Aku menangis menuju sekolahku, Saat
aku tiba di sekolah, Agnes dan kawan-kawan melihatku dengan jijik. Sepertinya
mereka tidak mau aku di panggung, mereka manarik bajuku dan menamparku di
belakang panggung.
“ Pergi cepat, jangan pernah ada
disini, kami akan tampil tanpa kamu. Cepat pergi? Sebelum ibu guru datang”
Tidak, aku tidak akan menyerah walaupun mereka menyiksaku. Aku sudah berjanji pada ayah untuk bermain musik di acara sekolah. Karena mereka mendapatkan aku tidak menyerah, akhirnya mereka mengancam tidak akan tampil dan memaksa aku tampil seorang diri, mereka ingin membuatku malu.
“ Baiklah, kami tidak akan tampil. Dan silakan kamu tampil sendirian, jadilah badut diatas panggung..”
Aku tidak mampu berbuat apa-apa ketika mereka mengikat rambutku layaknya orang bodoh, memoles mukaku dengan cat warna merah menyerupai badut sirkus. Aku tidak peduli, aku hanya ingin ayah bahagia dan menepati janji kepada ayah untuk tampil dalam panggung itu. Setelah puas mendandaniku seperti badut mereka pergi mendorong aku diatas panggung saat ibu guru yang bertugas menjadi pembaca acara memanggil tim kami dan aku muncul sendirian, mereka semua berlarian mengumpat.
“ DImana yang lain?” tanya ibu guru,
Aku terdiam, semua orang yang ada di bangku penonton menertawakan aku, mereka melihat badut yang sedang berada diatas panggung, aku sungguh tidak bisa berbuat-apa ap.
“ Astaga apa yang terjadi padamu dan yang lain pergi kemana? Kita tidak akan bisa menjalankan acara music ini.”
Tidak, aku tidak akan menyerah walaupun mereka menyiksaku. Aku sudah berjanji pada ayah untuk bermain musik di acara sekolah. Karena mereka mendapatkan aku tidak menyerah, akhirnya mereka mengancam tidak akan tampil dan memaksa aku tampil seorang diri, mereka ingin membuatku malu.
“ Baiklah, kami tidak akan tampil. Dan silakan kamu tampil sendirian, jadilah badut diatas panggung..”
Aku tidak mampu berbuat apa-apa ketika mereka mengikat rambutku layaknya orang bodoh, memoles mukaku dengan cat warna merah menyerupai badut sirkus. Aku tidak peduli, aku hanya ingin ayah bahagia dan menepati janji kepada ayah untuk tampil dalam panggung itu. Setelah puas mendandaniku seperti badut mereka pergi mendorong aku diatas panggung saat ibu guru yang bertugas menjadi pembaca acara memanggil tim kami dan aku muncul sendirian, mereka semua berlarian mengumpat.
“ DImana yang lain?” tanya ibu guru,
Aku terdiam, semua orang yang ada di bangku penonton menertawakan aku, mereka melihat badut yang sedang berada diatas panggung, aku sungguh tidak bisa berbuat-apa ap.
“ Astaga apa yang terjadi padamu dan yang lain pergi kemana? Kita tidak akan bisa menjalankan acara music ini.”
Aku mengambil kertas dan
menuliskannya
“ Bu, izinkanlah aku bermain piano ini, aku sudah berjanji pada ayah untuk bermain piano , ia sedang terbaring lemas di rumah sakit, jantungnya melemah hari ini, aku takut ia akan semakin buruk bila tau aku gagal bermain bersama tim musik di sekolah”
Ibu menatapku, ia sadar bertapa aku sangat sulit.
“ Baiklah mainkanlah piano ini, tunjukkan pada dunia kalau kamu adalah orang special dengan musikmu”
“ Terima kasih bu.”
Ibu guru memberikan kata-kata sambutan kepada penonton yang terus tertawa karena melihat badut sepertiku, tapi aku tidak peduli. Dengan keunggulan 3g, aku mengadakan video call dan ayah tersenyum padaku memberikan semangat, keletakkan telepon itu diatas meja piano.
“Tuhan bimbing aku agar semua berjalan dengan baik. Dan dengarkanlah musik ini..”
Setiap denting musik mulai memecahkan semua tawa yang awalnya menghujatku, menghinaku, arunan musik ini membawa perjalanan kisahku untuk berjuang menunjukkan pada dunia, aku memang terlahir cacat, aku tidak pernah tau apa artinya musik, tidak tau bagaimana suara burung, suara ayah bahkan tragisnya aku tidak pernah tau suara yang keluar dari mulutku sendiri.
Tapi aku percaya, aku tercipta bukan tanpa tujuan dalam dunia ini. ketika lagu itu usai kumainkan, semua berdiri dan memberikan tepuk tangan, aku menangis. ibu guru memelukku, aku ingin ibu menyampaikan pesanku kepada penonton.
“ Bu, izinkanlah aku bermain piano ini, aku sudah berjanji pada ayah untuk bermain piano , ia sedang terbaring lemas di rumah sakit, jantungnya melemah hari ini, aku takut ia akan semakin buruk bila tau aku gagal bermain bersama tim musik di sekolah”
Ibu menatapku, ia sadar bertapa aku sangat sulit.
“ Baiklah mainkanlah piano ini, tunjukkan pada dunia kalau kamu adalah orang special dengan musikmu”
“ Terima kasih bu.”
Ibu guru memberikan kata-kata sambutan kepada penonton yang terus tertawa karena melihat badut sepertiku, tapi aku tidak peduli. Dengan keunggulan 3g, aku mengadakan video call dan ayah tersenyum padaku memberikan semangat, keletakkan telepon itu diatas meja piano.
“Tuhan bimbing aku agar semua berjalan dengan baik. Dan dengarkanlah musik ini..”
Setiap denting musik mulai memecahkan semua tawa yang awalnya menghujatku, menghinaku, arunan musik ini membawa perjalanan kisahku untuk berjuang menunjukkan pada dunia, aku memang terlahir cacat, aku tidak pernah tau apa artinya musik, tidak tau bagaimana suara burung, suara ayah bahkan tragisnya aku tidak pernah tau suara yang keluar dari mulutku sendiri.
Tapi aku percaya, aku tercipta bukan tanpa tujuan dalam dunia ini. ketika lagu itu usai kumainkan, semua berdiri dan memberikan tepuk tangan, aku menangis. ibu guru memelukku, aku ingin ibu menyampaikan pesanku kepada penonton.
“ Terima kasih, memberikan aku
kesempatan untuk berada ditempat ini. Kini aku tau mengapa aku berbeda, karena
Tuhan mencintaiku. Aku tidak akan marah pada Agnes dan teman-teman, aku
bersyukur karena mereka mengajarkan aku tentang ketekunan dan ikhlas. Termasuk
ayah, yang selalu bilang padaku “ kita tidak perlu merasa sedih dengan keadaan
kita, bagaimanapun bentuknya. Karena Tuhan memberikan kita nafas kehidupan
dengan tujuan hidup masing-masing”
Ya aku percaya itu.
Tamat.
Ya aku percaya itu.
Tamat.
My blackberry
girlfriend
Nama gua
Martin, begitu panggilan teman-teman gua singkatnya. Padahal nama panjang gua
Martin Gunawan. Umur gua 23 tahun saat ini, gua berbagi kisah yang ga akan
pernah gua lupakan kepada semua orang yang pernah merasakan jatuh cinta. Gua
menyebutnya My Blackberry Girlfriends. Semua bermula dari saat ngetrendnya
hendphone Blackberry yang membius semua teman-teman gua, walau harganya
selangit tiba-tiba hendphone asal Kanada itu langsung jadi trend yang akhirnya
membuat gua pun ikut-ikutan ngejual nokia 9500 gua.
Blackberry
atau singkatnya BB memang hendphone keajaiban. Seorang temen menawarkan gua
untuk membeli BB yang second. Karena harganya masih selangit dan ternyata juga
BB itu masih baru karena orang yang makai mau ganti, akhirnya gua beli BB itu
sebagai hendphone kesayangan gua. Sejak hari pertama makai BB, gua selalu
promosikan no pin gua kesemua teman-teman gua yang makai dan setiap harinya
kerjapun gua jadi kayak orang bloon karena selalu ngecek BB gua.
Suatu
hari, secara ga sengaja sebuah no pinBB asing nge-add gua di BB gua. Gua terima
permintaan itu, tapi tidak pernah bertanya siapa pemilik no pin itu karena gua
gensi. Hingga suatu malam saat gua pulang kerja sedang asyik berbaring, jam 10
malam di messenger gua muncul pesan dari pin asing itu. Isinya singkat.
“ Gua
tunggu lu di Kafe Top. Cepetan kalau ga datang gua bakal marah besar?”
Karena
bingung gua balik nanya.
“ Maaf
ini siapa?”
“ Gua
Angel. Lu cepetan datang kalau ga gua bakal bunuh diri..”
Setelah
gua cerna dan gua pikir-pikir, gua baru inget ini mungkin Angel teman gua waktu
SMA. Akhirnya gua pun ngebut dengan motor gua menuju kafe Top yang memang ga
terlalu jauh dari rumah gua. Gua coba datangin tuh Kafe dan akhirnya gua sapa
dia di BB dan dia bilang di meja 13. Akhirnya gua datang sambil bengong-bengong
sebab gua ga kenal siapa sosok gadis.
Dimejanya
uda penuh dengan minuman alcohol, dia natap gua seperti ingin makan gua aja.
“ Kenapa
lu yang muncul?” tanya dia.
“ Sorry
kan lu yang suruh gua kesini..”
“ Gua
tuh mau ketemu Fendy.. bukan lu, lu ini siapa dia?”
“ Gua
martin.. gua ga tau siapa Fendy. Gua pikir lu manggil gua di- BB buat ketemu
gua..”
Mukanya
langsung merah, terus dia natap gua.
“
Panggil Fendy kalau ga gua marah..”
Gua jadi
bingung lalu gua bilang..” Sumpah gua ga kenal sama Fendy..”
“ Ga mau
tau.. kalau ga gua teriak neh..”
Lama-lama
gua pikir gadis ini gila juga, akhirnya gua tinggalin dia aja. Tiba-tiba dia
narik tangan gua, narik gua gitu aja keluar pintu kafe. Gua bengong, jalan dia
uda kayak mabok.
“ Aduh
kenapa sih? Gua bener-bener ga kenal Fendy.. serius !”
Rambutnya
yang panjang nyaris nutupin semua mukanya karena terlalu mabok, lalu dia
rapikan dengan tangannya, security mulai berdatangan..
“ Kenapa
mas..”
“ Mas
gua ga tau siapa dia.. tiba-tiba dia kayak gini..”
Security
itu liatin dia lalu gadis itu berkata singkat sama bapak itu.
“ Gua
hamil.. tanggung jawab..” ujar Angel langsung pingsan.
Security
itu ngeliatin gua, seolah-olah gua yang hamilin dia. Mau gua tinggal rasanya ga
tega juga karena pihak Kafe juga taunya gua orang terakhir yang kenal dia,
akhirnya gua bawa dia ke keluar dengan membayar semua biaya minuman dia yang
ngecekek kantor gua.. nasib-nasib..
Dengan
motor gua, gua bingung mau turunin dia kemana. Akhirnya kepikiran juga buat liatin
dompet dia, buat ngecek ktp dia kali-kali aja ada alamat. Tiba-tiba saat gua
coba ambil dompet dia, sebuah tamparan tepat di wajah gua. Anjritt. Sakit
banget.. dengan santainya dia bilang
“ Lu mau
ngambil dompet gua.. lu maling ya,,!”
“
Bukan.. gua mau tau alamat u..!”
“ alah
alasan lu pasti maling…”
Karena
gua takut digebukin massa dia teriak-teriak akhirnya gua tinggalin dia aja di
depan halte sendirian, ngebut dengan motor gua kabur dari gadis aneh yang
pernah gua temuin malam ini. Sepulang dari rumah gua langsung berdoa sama
Tuhan, sebab apa jadinya kalau gua digebukin massa gara-gara tuh gadis.Akhirnya
gua deleted juga dia punya pin dari BB gua, besoknya gua terbangun dan gua
dapat kerjaan sebagai SPB sebuah produk mobil bermerek, lumayan buat nambah-nambah
uang jajan seorang pengangguran.
***
Gua
emang cowok paling hoki sedunia dalam tiga hari gua uda bisa ngejual mobil
sebanyak 20 biji, lumayan buat bonus isi pulsa hehehe. Tapi celaka 17 ketika
tiba-tiba saat gua lagi pameran, tuh gadis mabok muncul sendirian
ngeliat-ngeliat mobil. Dalam hati gua, mungkin dia ga kenal gua soalnya kan
kemarin-kemarin dia mabuk. Gua sengaja tutup muka gua dengan brosur, dia
dekatin gua sambil ngeliat mobil yang gua pegang, wajahnya cantik juga kalau ga
lagi mabok. Gua heran kok cewek secantik ini bisa hamil sih sama orang ga jelas
bernama Fendy itu.
“ Ini
berapa harganya..?” tanya dia sama gua
“ Ehm…”
jawab gua parno takut dia inget muka gua.
“ Yee.
Ditanya diem aja. Mau beli neh gua.. “ ujar dia sinis dan gua pikir ini gadis
mabok kaga mabok bengis amet.
“
Sekitar 200 juta .. “ ujar gua pelan dan dia memperhatikan muka gua.
“
Ngapain nutupin muka pake brosur gitu..?” tanya dia..
“ Oh..
Gapapa.. lagi batuk makluk lagi banyak flu burung takut nular..”
Tuhan
masih sayang gua akhirnya dia pergi, setelah bosen liatin itu mobil.Gua narik
nafas lega, apa jadinya kalau dia teriak tiba-tiba ditengah-tengah pameran.Gua
pun duduk di meja kasir untuk beristirahat dan tiba-tiba dia ada disamping gua.
Anjrit.. Gua Shock banget.. tiba-tiba dia langsung duduk gitu aja kayak hantu.
“ Gua
kok rasanya pernah liat lo ya?” Tanya dia.
“ Salah
orang kali.. muka gua kan pasaran..”
“ Ah..
Gua yakin banget!! Nama lo sapa?”
“ Nama
gua.. ehm.. Alex..”
Dia
natap gua dari ujung rambut sampai kaki. Tiba-tiba dia pergi gitu aja, terima
kasih Tuhan ujar gua dalam hati.Akhirnya gua kembali kerja dengan damai, sampai
tiba-tiba teman gua kasih tau gua ada amplop dari pelanggan. Gua pikir itu
hadiah tips dengan senang hati gua buka dan ternyata isinya hanya pesan.
“ Gua
tunggu loe di Food Court atas sekarang.. waktu lu 20 menit kalau ga sampai,
jangan salahin gua kalau polisi yang jemput loe..Angel..”
Mati
gua, lemes kaki gua pas baca pesan itu. Dia nyadar juga cowok yang kemarin,
akhirnya gua pun dengan berat hati nemuin dia. Gua harap dia bisa jelas apa
yang terjadi semalam. Ketika gua duduk dia lagi minum es campur. Gua duduk
menghadap dengannya, dia langsung nyapa gua
“ Berapa
Pin BB u..?
“ Gua..
“ tanya gua .. “ iya siapa lagi?”
“
BB22000..” Jawab gua dan dia langsung add pin BB gua.
“ Mulai
besok setiap gua perlu lu, lu harus siap siaga. Jangan sekali-sekali lu hapus
pin bb gua dari BB lu atau lu siap-siap masuk penjara..”
“ Sorry
Angel.. lu salah paham. Waktu itu gua cuma maksud ngaterin lu pulang. Serius ga
ada minat copet..”
“ Gua ga
peduli, banyak saksi di tempat.. mau pake pengacara ruhut sitompul pun gua siap
ladenin lu..”
“
Astaga…”
“ Yauda
gua mau pulang.. inget kalau BB gua panggil siap-siap aja lu “ dia pergi gitu
aja tanpa ember-ember sedikit pun, dalam hati gua berkata nasib gua sial amet
ya gara-gara punya bb ini.
Dia
kembali lagi dan gua pikir dia uda percaya sama apa yang gua omongin, eh
ternyata..
“
Sekalian bayarin es campurnya..”
Nasib—nasib..
***
Kalau
gua ceritain penderitaan gua setelah dia nge-add pinnya di BB gua, gua pasti
bisa habisin semua halaman curhat gua ini. Tiap hari dia selalu minta gua jadi
supir dia buat jalan-jalan kemana aja dia mau, kalau dia belanja dia selalu
minta gua yang angkat barang-barang dia. Kalau dia ke salon gua harus temenin
dia, untungnya dia ga minta gua yang bayarin. Karena gua cuma punya motor
akhirnya dia suruh gua jadi supir dia. Sumpah mati selama gua jalan sama dia,
gua ga pernah tau siapa dia, background dia pun masih rahasia banget.
Gara-gara
dia gua jadi ga kerja sama sekali dan itu berjalan selama 3 minggu
berturut-turut. Suatu hari dia tiba-tiba minta gua ditemenin ke Pantai mutiara.
Gua yang lagi asyik-asyiknya nonton dvd mau ga mau harus samperin dia tempat
biasa buat anterin dia. Gua diam aja dibelakang dia saat dia duduk dipantai
sambil memperhatikan sunshet. Dia cantik banget tapi sikapnya bikin gua ilfeel,
begonya lagi kenapa gua jadi cowok bego amet mau disuruh-suruh sama dia.
“ Eh
Martin.. sini loh..” perintah dia.
“ Napa
lagi..” tanya gua lemes.
“ lu uda
punya pacar..”
“
Belum.. emang kenapa?” “ Oh pantesan lu punya waktu banyak buat gua..” pingin
gua cemplungin ke air waktu dia jawab gitu ga nyadar gara-gara dia gua jadi
sibuk.
“ Lu
sendiri..”
“ Sejak
kapan lu punya hak untuk bertanya siapa gua? Bukannya sejak awal gua bilang lu
ga boleh bertanya sama gua..”
“ Ya
nanya aja kali, abis lu kan nanya gua..”
“
Menurut lu gua tampangnya seperti punya atau ga?”
“
Kayanya sih banyak..” dalam hati gua mah mana ada mau cewek kayak gini egois..
“ Sok
tau lu..” jawab dia gua hanya senyum-senyum
“ Gua ga
punya pacar.. tapi gua lagi cari pacar..”
“ Terus
uda dapat..?” tanya gua dan dia hanya ngangguk kepala bertanda YA.
“ Lalu
kemana dia.. kok ga ngaterin lu aja..?”
“ lu mau
gua gaplok ya.. yang lagi ngaterin gua sekarang kan pacar gua..!”
Gua jadi
tiba-tiba merasa bloon dan tanya ulang.
“
Maksudnya gimana.. ga ngerti gua..!”
Dia
geplek kepala gua sambil bilang..” lu pacar gua .. tolol”
Astaganaga..
sejak kapan gua jadi pacar dia, dalam mimpi pun gua ga berharap punya pacar
kayak dia.
“ Lah
sejak kapan .. kok gua ga tau..”
“ Lu mau
masuk penjara atau mau jadi pacar gua..”
Dan
sejak saat itu Angel menobatkan gua jadi pacar dia dengan egoisnya. Penderitaan
gua terus berjalan, dia ga memperlakukan gua sebagai pacar. Gua seperti supir
atau pembantunya aja. Suatu hari dia sakit dan minta gua ke apartement dia.Dan
seperti biasa dia ga pernah nelepon gua untuk minta tolong selalu pake BB untuk
nyapa gua dan perintah gua. Dengan berat hati gua pun ke tempat dia, baru kali
ini gua ke apartement dia dan dia lagi sakit
“ Lama
amet sih.. “
“ Yaila
Jakarta kan macet..”
“ Alasan
lu banyak lah..”
“ Kok lu
sakit masih galak aja sih…” Dia terdiam.
“ Sakit
apa sih?” tanya gua..
“ Perut
gua sakit… sepertinya anak guamau ngelahirin..”
“ Hah..
yakin loh. Terus gua mesti gimana..!” tanya gua dan dia bilang “ bawah gua ke
rumah sakit!”
Akhirnya
gua pun bawa dia ke rumah sakit. Dokter bilang dia emang sedang hamil 6 bulan
dan gua dikira suaminya. Dalam hati gua baru nyadar kenapa dia jadi egois gitu,
gua rasa dia punya beban yang berat dalam hidupnya sebab dia hamil tanpa suami.
Akhirnya gua mencoba bersikap menerima dia dalam hidup gua sebagai sahabat. Gua
jadi prihatin, dia hidup sendirian. Dia cerita kalau orang tuanya uda meninggal
dengan mendadak karena kecelakaan pesawat. Saat gua tanya dimana bapak si
jabang bayi.
“ Gua ga
tau.. namanya Fendy.. dia yang punya BB yang lu pake.. orangnya uda ilang..”
“ Jadi
anak ini bakal ga punya ayah dong..”
“ Lu lah
yang jadi ayahnya…”
“ Gua
belum siap jadi bapak..”
“ Itu
takdir loe…”
Iya,
Angel memang benar gua adalah takdir dia. Walaupun dia orang yang egois dan
galak, sebenarnya dia itu baik. Gua bisa rasain dia hanya stress sama hidup
dia. Gua akhirnya selalu menjaga dia setiap bulan, hingga suatu ketika saat gua
lagi dikamar. Seorang teman gua datang, dia orang yang menjual BB ini ke gua.
Gua jadi mau tau siapa orang yang disebut Fendy oleh Angel. Ketika gua datang
dan nemuin dia, bertapa marahnya gua ketika dia bilang.
“ Angel
cewek murahan, gua berhubungan sama dia karena suka sama suka, jangan bilang
itu anak gua.. bisa aja anak orang lain..”
Gua
hajar itu orang sambil meninggalkan laki-laki berengsek itu. Hari ini tidak
seperti biasanya Angel ga bb gua, gua pun bb dia untuk pertama kalinya.
“ Tumben
lu BB gua duluan..” tanya Angel.
“ Cuma
merasa aneh aja lu ga ada perintah hari ini..”
“ Sorry
selama ini membuat lu selalu merasa sibuk..” kata sorry pertama dalam sejarah
gua kenal dia.
“ Gapapa
gua senang kok jalanin semua ini..!”
“ Martin..
apa impian lu dalam hidup?”
“ Impian
gua dalam hidup jadi orang sukses dan punya keluarga bahagia..”
“ Hm..
kalau gitu lu ga bahagia dong sekarang..”
“ Ga
terlalu.”
“ yauda
kalau gitu ntar malam lu datang ke apartement gua , gua mau makan malam sama
lo..”
“
Waduh.. serius lo..!”
“ Kalau
jam 7 Lu ga datang,gua bakal suruh polisi jemput lo..” ujar Angel yang galaknya
keluar.
Gua
begitu bahagia ketika datang dia masak untuk pertama kalinya buat gua, terang
aja dia jago masak. Dulu kan dia kuliah di UPH jurusan pariwisata dan
masak-masak.Malam itu berbeda dengan hari lainnya, dia begitu hangat dan
cantik. Dia memberikan pancaran kebahagiaan dari wajahnya, gua juga begitu
terkesan dengan semua yang ia lakukan malam ini dengan makan malamnya. Lalu gua
bertanya..
“ Angel
apa imipian lu dalam hidup?”
“
Berjumpa dengan orang seperti lu dalam hidup gua..”
“ Oh ya
terima kasih..”
“ So..
Sekarang lu bahagia..!”
“ Gua
bahagia..” dalam hati gua tapi gua sensara.
“ gua
berharap kelak gua bisa wujubkan impian lu seperti lu mewujubkan impian gua
berjumpa dengan orang seperti lu..”
“ Waduh
jangan bikin gua GR dong.. ada ada aja..”
Malam
itu pun berakhir, ntah mengapa sejak malam itu Angel ga pernah lagi panggi gua
di BB. Saat gua panggil pun dia ga jawab. Gua ga tau nomor telepon dia karena
selama ini selalu pake BB, gua pun berinistif ke Apartement dia tapi ga ada
yang buka pintu. Gua merasa kehilangan besar dalam hidup gua, apalagi gua tau
sebentar lagi dia akan ngelahirin anak.
Gua
bersedih hati sampai detik ini pun gua ga menemukan dia.. Gua sadar gua
menderita selama ini karena selalu jadi babu dia, tapi dibalik penderitaan itu
gua sejujurnya merasa senang bisa mengenal Angel. Dia gadis yang kuat walaupun
menerima kanyataan pahit dalam hidupnya setelah orang tuanya meninggal karena
kecelakaan dan hamil tanpa ayah.
Suatu
ketika gua hanya mendapat pesan terakhir dari dia yang bilang ke gua,
I have
baby in my life and the name its Martin..
Tapi
sayang gua ga pernah lagi tau dia dimana dan gua hanya bilang dia sebagai
MY
BLACKBERRY GIRLFRIEND dan saat ini gua pun menciptkan sebuah lagu untuknya..
Semoga ketika dia mendengar lagu ini dia tau kalau gua begitu bahagia mengenal
dia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar